1.039 Mahasiswa Baru Masuk FITK UIN Sunan Kalijaga, Orang Tua Diajak Kawal Perjalanan Akademi
![]() |
| Pertemuan orang tua mahasiswa baru FITK UIN Sunan Kalijaga digelar melalui Zoom untuk memperkuat sinergi. |
YOGYAKARTA — Sebanyak 1.039 mahasiswa baru resmi menjadi bagian dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Tahun Akademik 2026/2027. Untuk memperkuat pendampingan mahasiswa selama menempuh pendidikan, FITK mempertemukan jajaran fakultas dengan para orang tua dan wali mahasiswa, Kamis (3/9/2026).
Pertemuan Orang Tua dan Wali Mahasiswa Baru tersebut digelar sebagai ruang
silaturahmi sekaligus membangun sinergi antara fakultas dan keluarga. Kegiatan
mengusung tema “Sinergi Fakultas dan Keluarga dalam Membentuk Lulusan
sebagai Pendidik & Pemimpin Bangsa yang Unggul, Integratif, dan Berakhlak
Mulia.”
Tahun ini, 1.039 mahasiswa baru tersebut tersebar di sembilan program
studi, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA),
Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI),
Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), Pendidikan Matematika (PMAT),
Pendidikan Biologi (PBIO), Pendidikan Kimia (PKIM), dan Pendidikan Fisika
(PFIS).
Pertemuan tersebut tidak hanya memperkenalkan lingkungan akademik kepada
orang tua. Fakultas juga menjelaskan kehidupan kemahasiswaan, layanan
mahasiswa, peluang pengembangan diri, hingga bentuk dukungan keluarga yang
dibutuhkan selama mahasiswa menjalani masa studi.
Dekan: Kuliah Bukan Sekadar Mengejar Nilai
Dekan FITK UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Sigit Purnama, M.Pd.,
menyampaikan apresiasi kepada para orang tua dan wali yang telah mendukung
putra-putrinya hingga diterima di perguruan tinggi.
Menurutnya, memasuki perguruan tinggi merupakan fase baru yang menuntut
mahasiswa memiliki kemandirian, kedewasaan, dan tanggung jawab yang lebih
besar. Karena itu, pendidikan di perguruan tinggi tidak semestinya dipahami
sebatas proses memperoleh nilai dan gelar akademik.
Mahasiswa perlu dibentuk sebagai manusia yang memiliki kompetensi
sekaligus karakter. Hal tersebut sejalan dengan paradigma integrasi-interkoneksi
yang dikembangkan FITK UIN Sunan Kalijaga, yakni mempertemukan ilmu pengetahuan
dan pendidikan dengan nilai-nilai Al-Qur'an dan Hadis.
Melalui paradigma tersebut, mahasiswa diarahkan menjadi calon pendidik
yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki
kedalaman spiritual serta wawasan keberagamaan yang moderat, toleran, dan
inklusif.
Upaya tersebut didukung oleh ekosistem akademik FITK yang melibatkan
sekitar 160 dosen dari berbagai latar belakang keilmuan, termasuk guru besar,
doktor, dan praktisi pendidikan. Fakultas juga memiliki jejaring kerja sama
dengan sekolah, madrasah, lembaga pemerintah, dan berbagai mitra pendidikan
lainnya.
Mahasiswa Baru Diminta Siap Jadi Pembelajar Mandiri
Memasuki dunia perguruan tinggi juga berarti memasuki pola belajar yang
berbeda dari jenjang sekolah.
Wakil Dekan Bidang Akademik FITK, Dr. Andi Prastowo, M.Pd.I., menekankan
pentingnya kesiapan mahasiswa untuk menjadi pembelajar mandiri. Mahasiswa tidak
lagi hanya mengandalkan materi yang diberikan dosen di ruang kelas, tetapi
dituntut aktif membaca, berdiskusi, melakukan penelitian, menyelesaikan tugas,
serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan reflektif.
Kebiasaan akademik tersebut perlu dibangun sejak awal perkuliahan.
Kehadiran di kelas, kemampuan mengelola waktu, ketepatan menyelesaikan tugas,
komunikasi dengan dosen, serta inisiatif mencari sumber pengetahuan menjadi
bagian dari proses pembentukan mahasiswa.
Dengan demikian, keberhasilan studi tidak hanya dilihat dari indeks
prestasi atau nilai akhir. Kompetensi, karakter, integritas, dan kemampuan
mahasiswa dalam menerapkan ilmu juga menjadi bagian penting dari capaian
pendidikan.
Pada tahap inilah keluarga memiliki peran penting.
Orang tua diharapkan tetap memberikan dukungan, tetapi tidak mengambil
alih tanggung jawab mahasiswa. Dukungan dapat diberikan melalui motivasi,
penciptaan suasana belajar yang kondusif, penguatan kedisiplinan, hingga
menjadi tempat berdiskusi ketika mahasiswa menghadapi persoalan.
Kampus Tak Hanya Soal Perkuliahan
Selain aspek akademik, FITK juga memperkenalkan berbagai ruang
pengembangan diri yang dapat dimanfaatkan mahasiswa di luar perkuliahan.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama, Dr. Winarti, M.Pd.Si.,
memaparkan berbagai aktivitas kemahasiswaan yang dapat diikuti mahasiswa untuk
mengembangkan potensi dan pengalaman organisasi.
FITK memiliki sembilan Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) yang
menjadi wadah mahasiswa mengembangkan kemampuan organisasi sekaligus membangun
jejaring sesuai bidang keilmuan.
Mahasiswa juga dapat bergabung dalam berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa
(UKM) di tingkat universitas maupun kegiatan kemahasiswaan di tingkat fakultas.
Pilihannya mencakup bidang olahraga, seni dan budaya, keilmuan, penalaran,
kewirausahaan, bahasa, hingga kegiatan sosial dan pengembangan karakter.
Di tingkat fakultas, mahasiswa juga memiliki ruang untuk mengembangkan
minat di bidang religi, seni, media dan kreativitas, lingkungan, serta
kepenulisan.
Berbagai aktivitas tersebut dinilai penting karena pengalaman mahasiswa
tidak hanya dibentuk melalui kegiatan akademik. Organisasi dan kegiatan
minat-bakat dapat menjadi ruang untuk mengasah kemampuan komunikasi,
kepemimpinan, kerja sama, kreativitas, pengambilan keputusan, dan manajemen
waktu.
627 Mahasiswa Terdata dalam Program Beasiswa
Persoalan kesejahteraan mahasiswa juga menjadi perhatian FITK. Fakultas
turut memberikan informasi dan memfasilitasi akses terhadap berbagai program
beasiswa yang berasal dari internal UIN Sunan Kalijaga maupun mitra eksternal.
Sejumlah program yang diperkenalkan antara lain KIP, Baznas, UPZ, BIB,
LPDP, Djarum, pemerintah daerah, serta berbagai program lainnya.
Dalam data yang dipaparkan pada kegiatan tersebut, sebanyak 627
mahasiswa FITK telah terdata dalam program beasiswa.
Dukungan terhadap mahasiswa juga tidak berhenti pada aspek pembiayaan
pendidikan. Fakultas memberikan perhatian kepada mahasiswa yang menghadapi
persoalan kesejahteraan, termasuk mahasiswa kurang mampu, korban bencana,
maupun mahasiswa yang membutuhkan dukungan terkait kesehatan mental.
Hal tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan
yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga memperhatikan
kondisi dan kebutuhan mahasiswa secara lebih menyeluruh.
Peran Orang Tua Berubah, Bukan Hilang
Memasuki perguruan tinggi membuat pola hubungan antara mahasiswa dan
orang tua ikut berubah. Mahasiswa dituntut lebih mandiri dalam mengambil
keputusan dan bertanggung jawab terhadap proses pendidikannya.
Namun, kemandirian tersebut bukan berarti mahasiswa tidak lagi
membutuhkan keluarga.
Peran orang tua justru bergeser dari pengawasan langsung menjadi
pendampingan. Orang tua dapat membantu menjaga motivasi, mengingatkan
pentingnya integritas akademik, membangun kebiasaan positif, serta memberikan
dukungan emosional ketika mahasiswa menghadapi tekanan dan tantangan.
Komunikasi terbuka antara mahasiswa dan keluarga juga menjadi penting.
Orang tua diharapkan menjadi ruang yang aman bagi mahasiswa untuk bercerita
mengenai pengalaman, kesulitan, maupun perkembangan selama menjalani
perkuliahan.
Di sisi lain, mahasiswa perlu diberikan kepercayaan untuk menyelesaikan
persoalannya sendiri. Dengan pola tersebut, dukungan keluarga tidak menjadikan
mahasiswa bergantung, tetapi membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang matang
dan bertanggung jawab.
Fakultas dan Keluarga Jadi Mitra Pendidikan
Pertemuan orang tua dan wali mahasiswa baru tersebut pada akhirnya
menempatkan keluarga sebagai bagian dari ekosistem pendidikan di FITK.
Fakultas menyediakan lingkungan akademik, pengembangan kompetensi,
kegiatan kemahasiswaan, serta berbagai layanan pendukung. Sementara itu,
keluarga menjadi lingkungan terdekat yang memberikan dukungan moral, motivasi,
penguatan nilai, dan pendampingan kepada mahasiswa.
Kolaborasi keduanya diharapkan mampu membantu mahasiswa melewati masa
transisi dari sekolah menuju perguruan tinggi sekaligus mempersiapkan mereka
menghadapi tantangan pendidikan dan kehidupan setelah lulus.
Dengan jumlah mahasiswa baru mencapai 1.039 orang, FITK UIN Sunan
Kalijaga tidak hanya menghadapi tantangan untuk mengantarkan mahasiswa
menyelesaikan studi. Lebih dari itu, fakultas bersama keluarga memiliki
tanggung jawab untuk membentuk calon pendidik dan pemimpin yang kompeten,
berintegritas, berpikir kritis, memiliki kedalaman spiritual, dan berakhlak
mulia.
Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan penguatan komitmen bersama
untuk terus membangun komunikasi antara fakultas dan keluarga selama mahasiswa
menjalani proses pendidikan di FITK UIN Sunan Kalijaga.

Posting Komentar