Warga 27 Ilir Palembang Praktik Bikin Kompos, Sampah Dapur Diolah Jadi Berkah
.png)
Warga Kelurahan 27 Ilir, Palembang, mengikuti praktik pembuatan kompos menggunakan komposter dalam kegiatan Living Lab Sekanak Connect yang didukung pendanaan LPDP.
PALEMBANG —
Sebanyak 60 warga Kelurahan 27 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang,
antusias mengikuti pelatihan pemilahan sampah tahap ketiga sekaligus praktik
pembuatan kompos di Kantor Lurah 27 Ilir, Minggu (20/9/2026). Kegiatan ini
merupakan rangkaian program Living Lab Sekanak Connect yang digagas tim
peneliti Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri) untuk mendorong warga mengelola
sampah rumah tangga secara mandiri.
Living Lab
Sekanak Connect adalah salah satu riset di bawah Program BESTARI Saintek
(Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) yang diinisiasi Direktorat
Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek),
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Program
bertajuk “Living Lab Sekanak Connect di Kawasan 27 Ilir Palembang sebagai Model
Pengelolaan Sungai Perkotaan Berbasis Komunitas dan Teknologi” ini digarap
bersama Pemerintah Kelurahan 27 Ilir, Bank Sampah Amanah, Bank Sampah Kenanga,
dan warga setempat.
Ketua Tim
Pelaksana Living Lab Sekanak Connect, Dr. Ir. Nyayu Latifah Husni, S.T., M.T.,
menyebut kegiatan kali ini sebagai kelanjutan dari pelatihan pemilahan sampah
dan praktik pembuatan eco-enzyme yang sudah lebih dulu berjalan. Menurutnya,
warga sengaja diajak langsung mempraktikkan pengolahan sampah organik memakai
komposter, bukan sekadar menerima materi.
“Melalui
kegiatan ini, warga tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga langsung
mempraktikkan pengolahan sampah organik menggunakan komposter. Kami berharap
kebiasaan memilah dan mengolah sampah dapat dimulai dari rumah masing-masing,”
ujar Nyayu.
Pelatihan
dipandu Direktur Bank Sampah Amanah, Andiwijaya, S.Si., M.Si., bersama Direktur
Bank Sampah Kenanga, Nyimas Eli Agustina, S.E. Keduanya membekali warga dengan
pemahaman dasar membedakan sampah organik, sampah anorganik bernilai ekonomi,
dan sampah residu yang sudah tidak bisa diolah lagi.
Dalam sesi
praktik, peserta diperkenalkan pada fungsi komposter sebagai wadah pengolah
sampah organik rumah tangga, lengkap dengan tahapan memasukkan bahan, mengatur
kelembapan, mencampur bahan pendukung, hingga menjaga sirkulasi udara agar
proses penguraian berjalan baik.
Suasana
pelatihan berlangsung hidup dengan banyak pertanyaan dari warga. Rizky Pratiwi,
salah satu peserta, menanyakan apakah semua sisa makanan—termasuk yang
berminyak dan bertulang—bisa langsung dimasukkan ke komposter. Andiwijaya
menjelaskan bahwa komposter rumah tangga lebih cocok untuk sisa sayuran, kulit
buah, daun, dan bahan organik yang mudah terurai, sementara bahan berukuran
besar sebaiknya dipotong lebih dulu.
“Untuk tahap
awal, hindari memasukkan terlalu banyak makanan berminyak, tulang, serta bahan
yang sulit terurai. Komposisi bahan juga harus dijaga agar tidak terlalu basah
dan tidak menimbulkan bau,” jelas pria yang akrab disapa Pak Andi itu.
Pertanyaan
lain datang dari Sri Handayani soal cara mengatasi komposter yang berbau tidak
sedap atau didatangi serangga. Nyimas Eli Agustina menerangkan bahwa bau
biasanya muncul karena bahan di dalamnya terlalu basah, terlalu padat, atau
kurang sirkulasi udara.
“Jika
terlalu basah, tambahkan bahan kering seperti daun kering. Isi komposter juga
perlu diaduk secara berkala. Komposter harus ditutup dengan baik, tetapi
sirkulasi udaranya tetap dijaga agar proses pengomposan berjalan dengan benar,”
terang perempuan yang akrab disapa Bu Eli tersebut.
Adapun Siti
Hasanah menanyakan berapa lama kompos siap digunakan. Pak Andi menjawab bahwa
waktunya bervariasi tergantung ukuran bahan, kelembapan, sirkulasi udara, dan
perawatan komposter. “Kompos yang sudah matang biasanya berwarna gelap,
bertekstur remah, dan berbau seperti tanah. Karena itu, warga perlu memeriksa
serta mengaduk bahan secara berkala,” katanya.
Selain
praktik kompos, pertemuan ini juga diisi evaluasi hasil pemilahan sampah rumah
tangga, pemantauan proses eco-enzyme yang telah dibuat sebelumnya, dan
pengumpulan sampah anorganik yang sudah dipisahkan warga untuk selanjutnya
disalurkan lewat mekanisme bank sampah.
Nyimas Eli
menegaskan bahwa pemilahan sejak dari rumah adalah kunci pengelolaan sampah
berbasis masyarakat. Jika sampah organik diolah menjadi kompos dan sampah
anorganik disalurkan ke bank sampah, volume sampah yang berakhir di tempat
pembuangan akhir maupun mencemari lingkungan bisa ditekan.
“Yang paling
penting adalah konsistensi. Tidak harus langsung dalam jumlah besar. Mulailah
dari rumah, lakukan secara rutin, kemudian ajak anggota keluarga dan tetangga
untuk ikut,” pesannya.
Lewat
Program BESTARI Saintek yang didukung pendanaan Lembaga Pengelola Dana
Pendidikan (LPDP), Living Lab Sekanak Connect berupaya menempatkan warga
sebagai pelaku utama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan Sungai Sekanak,
dengan memadukan edukasi, partisipasi masyarakat, penguatan bank sampah,
pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi bersama pemerintah setempat.
Kegiatan ditutup dengan ajakan kepada warga untuk terus memilah sampah, mengolah sampah organik memakai komposter, dan mengumpulkan sampah anorganik bernilai ekonomi. Kebiasaan sederhana yang dimulai dari rumah ini diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama demi mewujudkan kawasan 27 Ilir dan Sungai Sekanak yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Posting Komentar